Tahukah ? Ada Makanan Tabu di Belgia

Kuliner  

Secara sederhana di Indonesia, kita menyebutnya kentang goreng. Saat makan ke restoran cepat saji atau café, pasti ada menu kentang goreng. Saat bicara kentang goreng, seringnya merujuk pada irisan kentang berbentuk panjang yang digoreng garing tetapi lembut di dalam. Biasanya dimakan dengan dicocol pada saus tomat atau sambal botolan. Menu ini juga bisa dipasangkan dengan sosis goreng, burger, bahkan steak.

foto : dok. republika.co.id

Di dunia internasional, kentang goreng tersebut dikenal dengan nama french fries. Konon penganan tersebut merupakan hasil inovasi pedagang kaki lima di Paris pada tahun 1700an. Presiden ke-3 Amerika Serikat, Thomas Jefferson kemudian memperkenalkan french fries ke Amerika Serikat. Belakangan sebutannya berkembang menjadi fries saja. Di Inggris, french fries menjadi pendamping untuk masakan ikan tepung dan mereka menyebutnya sebagai chips, sehingga dikenal pula makanan khas fish and chips.

Cerita soal kentang goreng ditemukan di Prancis, jelas ditolak mentah-mentah oleh Belgia. Bahkan dianggap tabu untuk memesan french fries, karena yang ada di sana adalah belgian fries atau masyarakat lokal menyebutnya frittes. Warga Belgia menganggap kentang goreng adalah makanan nasional. Kios-kios penjual kentang goreng bertebaran di setiap kota Belgia. Di Brussel terdapat Frietmuseum yang didedikasikan sebagai museum kentang goreng kebanggaan mereka. Istilah frittes, friet, atau fritje juga lebih banyak digunakan di sebagian besar negara Eropa.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Menurut beberapa sumber sejarah, Belgia adalah lokasi kelahiran kentang goreng. Kentang merupakan hasil bumi dan makanan andalan di Peru, Amerika Selatan. Sekitar tahun 1500an, tentara Spanyol membawanya pulang dan sejak saat itu, kentang menyebar ke seluruh Eropa. Sebuah manuskrip dari tahun 1600an, mengisahkan tentang keluarga di Belgia yang suka sekali mengonsumsi ikan-ikan berukuran kecil yang ditangkap dari sungai. Ikan-ikan tersebut digoreng hingga bertekstur renyah. Namun, saat musim dingin tiba dan sungai pun membeku, mereka memilih mengiris kentang panjang-panjang dan digoreng garing sebagai ganti dari ikan.

Olahan kentang a la keluarga di Belgia itu pun kemudian menyebar di antara tentara Amerika Serikat yang ikut bertempur pada Perang Dunia I dan bermarkas di daerah Belgia Selatan. Wilayah Belgia Selatan merupakan regional dari komunitas Prancis sehingga mayoritas warga Belgia di sana berbahasa Prancis. Para tentara Amerika Serikat itu pun menyebut penganan tersebut sebagai french fries.

Sebutan french fries untuk frittes masih bikin sensi warga Belgia hingga saat ini. Jadi, kalau Sobat Calakan berkesempatan mengunjungi Belgia dan ingin memesan kentang goreng, hati-hati dengan penggunaan istilahnya, ya. Selain itu, kenikmatan kentang goreng Belgia sudah diakui dunia. Bukan cuma perkara rasa tapi juga tingkat kerenyahan, dan kualitas bahan baku kentang. Nah, kalau di Belgia, orang-orang tidak makan kentang goreng pakai saus tomat atau sambal. Mereka menyajikan kentang dengan mayones sebagai cocolannya. Tertarik mencoba? (AR Meinanda)

Berita Terkait

Image

Jangan Lewatkan Kesempatan Kuliah MBA di Harvard dengan Beasiswa

Image

Masih Dibuka Pendaftaran Magang OECD di Paris

Image

Kesempatan Kuliah S2 Berbeasiswa di Belgia

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Calakan artinya cerdas dalam bahasa Sunda. Media Calakan ini diharapkan mencerdaskan para pembacanya khususnya terkait informasi-informasi yang berman

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image